You need to enable javaScript to run this app.

IDENTIFIKASI POTENSI DAN MASALAH LINGKUNGAN HIDUP (IPMLH) SMP NEGERI 6 SINGARAJA

  • Sabtu, 29 Juni 2024
  • SMP Negeri 6 Singaraja
  • 0 komentar

A. PENDAHULUAN

Adiwiyata, secara internasional disebut pula dengan Green School adalah salah satu program Kementerian Lingkungan Hidup dalam rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Diharapkan setiap warga sekolah ikut terlibat dalam kegiatan sekolah menuju lingkungan yang sehat dan menghindari dampak lingkungan yang negatif. Lingkungan yang bersih dan sehat tentunya menjadi dambaan institusi pendidikan kapanpun dan dimanapun. Lingkungan sekolah yang bersih dan sehat juga mencerminkan keberadaan warga sekolah yang ada mulai dari siswa, guru, staf, karyawan, unsur pimpinan sekolah bahkan sampai orang tua siswa. Sangatlah tepat, himbaun yang mengatakan bahwa tanggung jawab penciptaan lingkungan yang bersih dan sehat merupakan kewajiban dan tangggung jawab bersama.

Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) merupakan upaya untuk mengubah perilaku dan sikap yang dilakukan oleh berbagai pihak atau elemen masyarakat termasuk sekolah yang bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran masyarakat tentang nilai-nilai lingkungan dan isu permasalahan lingkungan. Semua itu pada akhirnya dapat menggerakkan masyarakat terutama warga sekolah SMP Negeri 6 Singaraja untuk berperan aktif dalam upaya pelestarian dan keselamatan lingkungan generasi sekarang dan yang akan datang.

Foto GWK di halaman sekolah

SMP Negeri 6 Singaraja berlokasi di jalan Bisma No. 3 Singaraja, Kelurahan Banjar Tegal, Kecamatan Buleleng. Sekolah ini mempunyai luas lahan 4400 meter persegi, sekitar 60% dari lahan tersebut sudah diakai untuk bangunan gedung-gedung sekolah yang sebagian besar berlantai dua.  dengan jumlah 86 guru dan pegawai serta  siswa hampir 1000 orang tiap tahunnya. Lokasinya agak masuk, sekitar 100 meter dari jalan protokol, hanya berjarak 300 meter dari pusat pemerintahan kabupaten Buleleng, terletak di pertengahan  kota yang penduduknya padat.

Sebagai salah satu satuan pendidikan di Indonesia, tentunya SMP Negeri 6 Singaraja menyelenggarakan pendidikan mengacu pada delapan standar nasional pendidikan. Sebagaimana pengertian pendidikan itu, yaitu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Oleh karena itu, SMP Negeri 6 Singaraja selalu berupaya dengan kesadaran penuh untuk meningkatkan kondusifitas kegiatan guru, kualitas pembelajaran, kemananan dan kenyamanan siswa, serta lingkungan yang sehat.

Dengan kondisi seperti letak sekolah ditengah kota, lahan yang sempit, sebagian gedung bertingkat dan jumlah siswa yang tidak sesuai dengan luas lahan, tentunya ada potensi dan masalah-masalah yang dihadapi sekolah termasuk permasalahan lingkungan hidup. Terkait lingkungan hidup SMP Negeri 6 Singaraja sudah melaksanakan program secara khusus karena permasalahan lingkungan hidup merupakan hal yang sangat penting sebagai pendukung kenyamanan dalam kegiatan proses pembelajaran.

Program ini sesuai dengan visi dan misi sekolah yang berlandaskan Tri Hita Karana yang merupakan konsep kearifan lokal masyarakat Bali yaitu harmonisasi antara manusia dengan Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa, harmonisasi manusia dengan manusia dan harmonisasi manusia dengan alam/ lingkungan hidup. Program ini sejalan dengan program pemerintah yaitu Adiwiyata.

Adiwiyata adalah sebuah program nasional di Indonesia yang bertujuan untuk mendorong sekolah-sekolah di seluruh Indonesia untuk melakukan upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup secara aktif. Program ini diinisiasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sebagai upaya untuk mengintegrasikan pendidikan lingkungan hidup dalam sistem pendidikan nasional.

Tujuan utama dari program Adiwiyata adalah;:1) Mengedukasi siswa tentang pentingnya pelestarian lingkungan hidup dan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan; 2) Mendorong sekolah untuk menerapkan prinsip-prinsip lingkungan hidup dalam kegiatan sehari-hari di sekolah, seperti pengelolaan sampah, konservasi air, dan konservasi energi; 3) Mengembangkan kesadaran dan sikap peduli terhadap lingkungan hidup di kalangan siswa, guru, dan seluruh anggota sekolah.

Program Adiwiyata juga memberikan penghargaan berupa pengakuan kepada sekolah yang berhasil menerapkan prinsip-prinsip Adiwiyata dengan baik melalui pemberian sertifikat Adiwiyata. Hal ini juga dapat meningkatkan citra dan prestise sekolah di mata masyarakat karena dianggap berkontribusi positif dalam pelestarian lingkungan hidup. Secara keseluruhan, Adiwiyata menjadi salah satu inisiatif penting dalam mendukung pendidikan lingkungan hidup di Indonesia dan mempersiapkan generasi muda untuk menjadi agen perubahan dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Tahun 2024 ini  SMP Negeri 6 Singaraja mengajukan penghargaan Adiwiyata Mandiri setelah sebelumnya telah meraih penghargaan Sekolah Adiwiyata tingkat kabupaten (2016), Tingkat provinsi (2019) dan tingkat nasional (2022). Penghargaan ini diperoleh setelah sekolah dinilai berhasil membudayakan PRLH (Perilaku Ramah Lingkungan Hidup) di sekolah mencakup berbagai aspek yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan tindakan siswa dalam menjaga lingkungan hidup

PRLH di sekolah dikelompokkan menjadi enam aspek pendidikan ramah lingkungan. Aspek tersebut adalah drainase, sanitasi, dan kebersihan lingkungan; pengelolaan sampah, pemeliharaan tanaman, konservasi air, konservasi energi, dan inovasi.

B. IDENTIFIKASI POTENSI DAN MASALAH

Tabel 1 dibawah ini merupakan hasil Identifikasi Potensi dan Masalah Lingkungan Hidup di SMP Negeri 6 Singaraja.

Tabel 1. Hasil IPMLH Sekolah SMP Negeri 6 Singaraja

 NO

 

LINGKUNGAN

IDENTIFIKASI

ASPEK PENERAPAN PRLH

POTENSI

MASALAH

I

INTERNAL SEKOLAH

 

 

 

1

Luas Lahan

v Luas lahan yang sempit memicu warga sekolah berusaha mencari inovasi-inovasi untuk mengefektifkan setiap lahan/ ruang

v  Luas lahan yang sempit menimbulkan permasalahan, kurangnya tempat lahan untuk tanaman maupun tamanisasi,

 

v  Banyaknya got-got mempersempit halaman sekolah, perlu penangangan yang matang dalam upaya penanganan drainase

 

Penerapan perilaku ramah lingkungan hidup di sekolah dikelompokkan menjadi enam klasifikasi.

 

Aspek tersebut adalah

1)   Drainase,

2)   Sanitasi, dan kebersihan lingkungan;

3)   Pengelolaan sampah,

4)   Pemeliharaan tanaman,

5)   Konservasi air, konservasi energi,

6)   Inovasi.

2

Gedung Sekolah Banyak Bertingkat

(dari 8 Gedung hanya 2 gedung yang tidak bertingkat)

v Banyaknya Gedung bertingkat memicu warga sekolah berusaha mencari inovasi-inovasi pemanfaatan dinding-dinding pembatas selasar dan tembok sekolah sebagai tempat taman vertikal

v Tanaman-tanaman pada taman vertikal/Vertical Garden agak sulit pemeliharannya seperti penyiraman, biaya cukup tinggi.

v Lampu-lampu yang dinyalakan pada malam hari kadang -kadang lupa/malas dimatikan karena tempatnya berjauhan.

 

3

Fasilitas lainnya

v Memiliki Padmasana yang nyaman untuk bersembahyang untuk warga sekolah yang beragama Hindu

 

v Kegiatan persembahyangan yang rutin dilakukan memicu banyak sisa sarana persembahyangan berupa (daun, bunga, buah kelapa)

 

 

 

v Memiliki ruang kepala sekolah, ruang guru , ruang BK dan ruang staf.

v Memiliki 20 ruang kelas dan sangat memadai

v Memiliki ruang UKS dan Perpustakaan, ruang Pramuka

v Memiliki ruang LAB IPA dan LAB TIK yang sangat memadai

 

v Beberapa ruangan ini  difasilitasi dengan AC, air pembuangan AC sering terbuang percuma.

 

 

v Memiliki 17 toilet/kamar mandi untuk siswa dan 2 di ruang guru dan 1 di ruang kepala sekolah yang sangat memadai

 

v Air untuk mengisi bak toilet kadang-kadang lupa dimatikan sampai air meluap terbuang percuma

v Lampu di toilet/kamar madi siswa kadang-kadang lupa dimatikan.

 

 

 

v Memiliki tempat cuci tangan/wastafel di setiap masing-masing ruang kelas dan ruang guru

 

v Kadang-kadang air kran tidak disesuaikan volume air kran

v Kadang-kadang lupa dimatikan air krannya atau krannya rusak tetapi tidak dilaporkan ke petugas pengelola.

 

 

 

v Memiliki 6 kantin yang ramah lingkungan

 

v Keberadaan kantin sangat diperlukan namun juga merupakan penyumbang sampah terbanyak di sekolah

 

 

 

v Memiliki tempat sampah terpilah

 

v Tempat penampungan sampah kadang tidak memadai apalagi sisa sampah kadang-kadang masih banyak meskipun sampah plastiknya sudah dipilah.

 

 

 

v Memiliki taman sekolah, tanaman peneduh (hutan sekolah)  yang  terawat dengan baik

 

v Hasil perawatan yang rutin dilakukan menimbulkan banyaknya sampah organik

4

Kurikulum

v Sekolah mengintegrasikan pendidikan yang ramah lingkungan hidup sesuai kurikulum yang berlaku.

v Sekolah diwajibkan mengupdate perangkat kurikulum agar sesuai dengan PRLH, ini memerlukan waktu dan pikiran

v   Intrakurikuler (RPP/Modul Ajar)

v   Kokurikuler (P5),

v  Ekstrakurikuler (Sispala)

v  Budaya sekolah (Pembiasaan hidup bersih)

5

Program THK

(Tri Hita Karana)

v Program THK sejalan dengan Adiwiyata

v Pada kegiatan aspek Parahyangan permasalahan adanya sisa hasil kegiatan (sampah sesajen setelah persembahyangan)

v  Mencintai/ menyayangi manusia, tanaman sebagai mahluk Tuhan

II

LINGKUNGAN EKSTERNAL SEKOLAH

 

 

 

 

 

v Sekolah terletak di tengah pusat pemerintahan dan berdekatan dengan kantor-kantor dinas-dinas terkait seperti; Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Perkebunan, Kodim, Koramil dan Komunitas Rumah Plastik

v  Polusi udara akibat kendaraan bermotor yang berlalu lalang di depan sekolah

v Kadang-kadang warga sekitar membuang sampah sembarangan di jalan menuju sekolah.

v  Kemitraan dengan Pihak Eksternal:

 

 

v   

v   

 

 

Penghargaan Adiwiyata adalah sebuah penghargaan yang diberikan bagi sekolah yang berhasil melaksanakan gerakan PBLHS (peduli dan berbudaya lingkungan hidup di sekolah), yaitu aksi kolektif secara sadar, sukarela, berjejaring, dan berkelanjutan yang dilakukan oleh sekolah dalam menerapkan perilaku ramah lingkungan hidup. SMP Negeri 6 Singaraja telah meraih penghargaan Sekolah Adiwiyata tingkat provinsi (2019) dan tingkat nasional (2022).

C. PRLH (Perilaku Ramah Lingkungan Hidup)

Pendidikan Lingkungan Hidup di sekolah dapat dikelompokkan ke dalam enam klasifikasi berikut, yang mencakup berbagai aspek penting beserta penerapannya dalam mempromosikan perilaku ramah lingkungan di kalangan siswa:

1. Melakukan Drainase, Sanitasi, dan Kebersihan Lingkungan:

  • Aspek: Kegiatan ini fokus pada pemahaman tentang pentingnya menjaga drainase yang baik, sanitasi yang sesuai, dan kebersihan lingkungan secara umum.
  • Contoh Penerapan:
  1. Pengajaran tentang pentingnya menjaga saluran air agar tidak tersumbat, menghindari pencemaran sungai dan laut dengan sampah plastic (intrakuriluker)
  2. Kegiatan rutin menjaga kebersihan lingkungan sekolah, seperti kebersihan toilet, fungsi sanitasi, dan drainase . (budaya sekolah)
  3. Pembuatan berbagai inovasi terkait drainase, sanitasi dan kebersihan lingkungan, seperti semua got tertutup tiap jarak 4 meter dibuatkan bak control dan biopori sebagai resapan air. (melalui kegiatan ekstrakurikuler sispala, P5)
  4. Melakukan gerakan aksi kebersihan, dan area publik lainnya seperti di Taman Pahlawan, Taman Kota, Dermaga/Pantai, Kegiatan ini mengikutsertakan seluruh warga sekolah yang mencakup kepala sekolah, komite sekolah, guru, pegawai, siswa, dan masyarakat sekitar.

2. Pengelolaan Sampah Organik dan Sampah Plastik.

  • Aspek: Mengajarkan cara-cara yang tepat dalam mengelola sampah organic dan sampah plastic untuk mengurangi dampak negatifnya terhadap lingkungan,bahkan mendapatkan manfaatnya.
  • Contoh Penerapan:
  1. Program daur ulang di sekolah, seperti pemisahan sampah organik dan non-organik.
  2. Penggunaan barang-barang sekolah yang ramah lingkungan, pemakaian botol minum (tumbler) yang dapat diisi ulang, diupayakan pembungkus makanan memakai daun
  3. Pembuatan berbagai inovasi terkait pengelolaan sampah plastik maupun organic menjadi barang seni (Mapel Prakraya, Seni Wajah Plastik /kegiatan P5).
  4. Kerjasama dengan pihak eksternal (DLH, Kodim, Komunitas)

3. Pemeliharaan Tanaman:

  • Aspek: Mendorong siswa untuk terlibat dalam penanaman dan pemeliharaan tanaman sebagai bentuk pelestarian lingkungan.
  • Contoh Penerapan:
  1. Pembibitan (Sispala dan Pelajaran IPA)
  2. Program wajib 1 anak 1 pohon .
  3. Pembuatan taman sekolah atau kebun sayur yang dikelola oleh siswa.
  4. Pelatihan mengenai teknik penanaman Hydrophonik dengan system Vertikal Garden dan pembuatan kompos, POC dan penggunaan penggunaan pupuk organik.

4. Konservasi Air:

  • Aspek: Mengajarkan prinsip-prinsip konservasi air dan menghargai sumber daya air yang terbatas.
  • Contoh Penerapan:
  1. Pengajaran tentang cara menghemat air di sekolah dan di rumah.
  2. Kampanye penyadaran tentang pentingnya menjaga kebersihan dan ketersediaan air bersih bagi lingkungan hidup.
  3. Inovasi tentang konversi air pada bak kamar mandi, wastafel, Pemasangan alat kontrol air bak dan wastafel (kran sensor gerak)

 

4. Konservasi Energi (Listrik):

  • Aspek: Memahamkan pentingnya penggunaan energi secara efisien dan pengurangan emisi karbon.
  • Contoh Penerapan:
  1. Pemasangan lampu hemat energi
  2. Pemakaian lampu sensor cahaya otomatis di sekolah.
  3. Program edukasi tentang kebutuhan untuk mengurangi konsumsi energi di sekolah dan mengenai energi terbarukan.

5. Inovasi pada PRLH

Dalam rangka ikut melestarikan fungsi lingkungan hidup serta mendukung program adiwiyata, SMP Negeri 6 Singaraja telah melakukan upaya dan beberapa inovasi untuk mendorong siswa untuk mengembangkan ide-ide kreatif dan solusi inovatif dalam mendukung keberlanjutan lingkungan. Inovasi-inovasi ini dilakukan sebagai solusi permasalahan-permasalahan yang diidentifikasi terkait lingkungan hidup

Inovasi-inovasi yang sudah dilakukan adalah sebagai berikut:

  • Pengadaan Biopori

Biopori adalah lubang kecil yang dibuat secara alami atau buatan untuk meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah. Lubang ini dibuat dengan diameter sekitar 10-15 cm dan kedalaman hingga 100 cm, biasanya menggunakan alat sederhana seperti linggis atau bor tangan. Manfaatnya termasuk mengurangi genangan air, meningkatkan penyediaan air tanah, serta memperbaiki kualitas tanah dengan memfasilitasi pergerakan udara dan nutrisi. Biopori juga membantu mengurangi risiko banjir dan erosiasi tanah, serta mendukung pertumbuhan tanaman yang sehat di sekitar area yang ditanami.

Untuk menambah kelembaban tanah disekitaran lingkungan sekolah. Maka, sekolah membuat lubang biopori dibeberapa tempat sebanyak lebih dari 40 titik baik ditiap bak kontrol saluran sanitasi maupun di taman sekolah.

  • Pembuatan Sumur Resapan

Sumur resapan adalah struktur yang dirancang untuk menyerap air hujan ke dalam tanah secara perlahan. Sumur ini dibuat sedemikian rupa sehingga memungkinkan air meresap ke dalam tanah dan mengisi kembali lapisan air tanah. Manfaat utamanya adalah mengurangi genangan air, mencegah banjir, meningkatkan ketersediaan air tanah, serta mempertahankan kelembaban tanah untuk mendukung pertumbuhan tanaman yang sehat. Sumur resapan juga membantu mengurangi erosi permukaan tanah dan mengurangi beban sistem drainase perkotaan.

  • Pembuatan Teba Modern / Big Composter

Sebagai sekolah yang menjalankan Program Tri Hita Karana dan banyaknya tanaman baik tananam pada taman sekolah maupun tanaman keras yang merupakan hutan kecil sekolah tentunya banyak sekali sampah organik yang dihasilkan baik sampah dari sisa hasil kegiatan persembahyangan warga sekolah yang sebagian besar beragama Hindu seperti sesajen yang sudah selesai digunakan persembahyangan (dalam Bahasa daerah Bali disebut lungsuran). berupa bunga, daun dan kelapa) seperti dedaunan, sisa makanan dan limbah tumbuhan. Maka, sekolah membuat inovasi Teba Modern /Big Composter sebagai pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos.

Teba Modern atau Big Composter adalah sebuah teknologi modern dalam pengelolaan limbah organik. Teba Modern seperti sumur dengan kedalaman lebih dari 2 meter, menggunakan beberapa deker/buis beton diameter 80 cm, pada bagian atas ditutup plat beton yang dilubangi bagian tengah untuk memasukkan sampah. Ini adalah komposter besar yang digunakan untuk menguraikan limbah organik seperti sisa makanan, daun, dan sampah organic lainnya menjadi kompos yang kaya akan nutrisi. Jika tidak digunakan lubang tempat memasukkkan sampah tersebut ditutup dengan pot yang berisi tanamn bunga sehingga menambah estetika. Karena tutupnya berupa meja berbentuk lingkaran apalagi dicat dengan gambar yang menarik, teba modern ini juga bisa digunakan sebagai tempat nongkrong siswa saat istirahat. Ada dua teba modern yang sudah dibuat di SMP Negeri 6 Singaraja, saat pembuatan dibantu anggota dari Kodim 1906 Buleleng.

Dalam filosofi budaya warga Hindu di Bali, Teba itu bisa diartikan bagian tanah/halaman/kebun yang paling bawah dibelakang rumah. Biasanya digunakan untuk membuat kotoran/sampah organic sebagai pupuk. Sedangkan sampah-sampah sisa hasil persembahyangan jika dibuang ke teba dipercaya akan membawa berkah untuk kesuburan tanah karena merupakan sampah yang sudah diberkati. Konsep ini diadopsi diaplikasikan di sekolah, disebut modern karena pembuatannya dikombinasikan dengan seni sehingga memiliki nilai estetika dan banyak manfaatnya.

Proses komposisasi dalam teba modern ini melibatkan pengaturan suhu dan kelembaban yang optimal serta aerasi untuk mempercepat pelapukan. Manfaatnya termasuk mengurangi volume limbah, menghasilkan pupuk organik yang berguna untuk tanaman, serta mengurangi emisi gas rumah kaca melalui pengelolaan limbah secara berkelanjutan. Teknologi ini menjadi pilihan modern dalam mendukung praktik pertanian berkelanjutan dan pengelolaan limbah di berbagai skala.

  • Pembuatan VCO

VCO adalah singkatan dari Virgin Coconut Oil, yang merupakan minyak kelapa murni yang diekstraksi dari daging buah kelapa tanpa melalui proses pengolahan kimia atau pemanasan tinggi. Proses ekstraksi dilakukan dengan metode mekanis atau fermentasi untuk mempertahankan kualitas alami dan nutrisi dalam minyak kelapa. VCO memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan, di antaranya adalah melembabkan dan merawat kulit secara alami, membantu mengurangi kerutan dan tanda penuaan, serta memberikan perlindungan dari kerusakan akibat sinar matahari. Selain itu, VCO juga dapat digunakan untuk meredakan iritasi kulit, mengurangi peradangan, dan mendukung proses penyembuhan luka. Konsumsi VCO secara rutin juga dapat meningkatkan kadar kolesterol baik, memperbaiki fungsi pencernaan, serta membantu dalam manajemen berat badan dengan meningkatkan metabolisme tubuh.

Pembuatan VCO di SMPN 6 Singaraja dilaksankan dalam kegiatan Projek Penguatan Pelajar Profil Pancasila (P5) dengan Gaya Hidup Berkelanjutan merupakan upaya yang menggabungkan nilai-nilai pendidikan, lingkungan, dan ekonomi lokal. Proses dimulai dengan pengumpulan kelapa dari kegiatan persembahyangan Hindu di sekolah, yang kemudian diolah menjadi santan kelapa. Selanjutnya, santan tersebut diekstraksi untuk menghasilkan minyak kelapa mentah, yang kemudian melalui proses fermentasi dan penyaringan untuk mendapatkan VCO murni.

Inisiatif ini tidak hanya bertujuan untuk mengurangi limbah organik dari kegiatan sekolah, tetapi juga memberikan pelajaran praktis tentang pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan kepada para pelajar. Melalui proses ini, siswa tidak hanya belajar tentang nilai-nilai kebersihan lingkungan dan pengelolaan limbah, tetapi juga memperoleh keterampilan ekonomi dengan menghasilkan produk yang dapat dijual atau digunakan secara lokal.

Selain itu, pengolahan VCO dari kelapa juga mencerminkan komitmen terhadap gaya hidup berkelanjutan, yang mendukung penggunaan sumber daya alam secara bertanggung jawab dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya memperkuat karakter siswa dalam hal keberanian dan kerja keras, tetapi juga mempromosikan nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan dan keberlanjutan dalam kehidupan sehari-hari.

  • Pembuatan Eco Enzim

Eco Enzim adalah larutan yang mengandung campuran enzim alami yang dihasilkan dari bahan-bahan organik seperti buah-buahan, sayuran, atau limbah dapur lainnya yang difermentasi. Enzim-enzim ini memiliki kemampuan untuk memecah molekul organik kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana, yang berguna dalam berbagai aplikasi rumah tangga dan pertanian. Manfaat Eco Enzim meliputi penggunaannya sebagai pembersih ramah lingkungan yang efektif untuk menghilangkan noda dan bau tidak sedap tanpa bahan kimia berbahaya, pupuk organik yang meningkatkan kualitas tanah dan nutrisi tanaman, pengendali bau dalam kompos dan limbah, pengolah limbah organik yang mendukung pengurangan limbah dan perlindungan lingkungan, serta akselerator dalam proses pengomposan untuk menghasilkan pupuk kompos berkualitas tinggi. Eco Enzim merupakan solusi multifungsi yang berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan dan pertanian organik.

Pembuatan Eco Enzim dalam kegiatan Projek Penguatan Pelajar Profil Pancasila (P5) di SMPN 6 Singaraja dengan Gaya Hidup Berkelanjutan merupakan langkah inovatif dalam pengelolaan sampah organik untuk meningkatkan karakter dan kesadaran lingkungan siswa. Proses dimulai dengan pengumpulan limbah organik dari sekolah, seperti sisa-sisa buah, sayur, dan limbah dapur lainnya. Limbah-limbah ini kemudian difermentasi dengan bantuan mikroorganisme untuk menghasilkan campuran enzim alami.

Dalam konteks inovasi perilaku ramah lingkungan, siswa terlibat langsung dalam setiap tahap proses, dari pengumpulan limbah hingga proses fermentasi. Mereka mempelajari pentingnya pengelolaan limbah organik secara efektif sebagai upaya untuk mengurangi jejak karbon dan meningkatkan kualitas lingkungan sekolah. Selain itu, mereka belajar tentang manfaat Eco Enzim sebagai alternatif ramah lingkungan dalam pembersihan, pengendalian bau, dan pembuatan pupuk organik.

Kegiatan ini tidak hanya memberikan pendidikan praktis tentang pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, tetapi juga mempromosikan nilai-nilai seperti tanggung jawab sosial dan kepedulian lingkungan. Melalui proyek ini, siswa tidak hanya mengembangkan keterampilan praktis dalam pengelolaan limbah organik, tetapi juga membangun kesadaran akan pentingnya berperan aktif dalam melestarikan lingkungan hidup bagi generasi mendatang.

  • Pembuatan POC

POC atau Pupuk Organik Cair adalah jenis pupuk yang terbuat dari bahan-bahan organik alami yang difermentasi menjadi bentuk cair. POC di SMPN 6 Singaraja dibuat dengan memanfaatkan limbah tumbuhan sisa-sisa makanan di kantin sekolah dan sampah organik lainnya yang mudah terurai. Proses fermentasi ini dilakukan untuk menghasilkan larutan yang kaya akan nutrisi dan mikroorganisme baik yang berguna bagi tanaman.

Keunggulan POC antara lain kemampuannya untuk meningkatkan kesuburan tanah secara alami, memperbaiki struktur tanah, serta meningkatkan daya serap tanaman terhadap nutrisi. POC juga umumnya ramah lingkungan karena menggunakan bahan-bahan organik dan tidak mengandung bahan kimia berbahaya.

Penggunaan POC dapat menjadi salah satu solusi dalam pertanian organik atau sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia sintetis.

POC (Pupuk Organik Cair) dibuat dengan menggunakan tong atau drum yang didesain khusus agar proses fermentasi berjalan dengan baik, ditempatkan di area yang terlindung dari sinar matahari langsung dan hujan. Proses fermentasi membutuhkan waktu beberapa minggu, dengan pentingnya ventilasi yang cukup untuk mengurangi risiko gas beracun. Setelah proses selesai, larutan POC disaring dan disimpan dalam wadah tertutup untuk menjaga kebersihan dan kualitasnya

Pembuatan POC bertujuan untuk mengubah limbah organik menjadi pupuk yang meningkatkan kesuburan tanah secara alami. Hal ini mengurangi pencemaran lingkungan dengan memanfaatkan limbah tanaman dan hewan yang akan dibuang. POC juga membantu mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia sintetis, meningkatkan retensi air tanah, dan mendukung keberlanjutan pertanian dengan memperbaiki kesehatan tanah dan meminimalkan dampak negatif terhadap ekosistem.

  • Pemasang Label Barcode Tanaman

Label barcode tanaman di sekolah merupakan sistem identifikasi yang menggunakan kode barcode untuk mengidentifikasi dan melacak informasi mengenai tanaman yang ada di sekolah. Label tersebut ditempatkan di sekitar tanaman atau pot tempat tanaman tersebut ditanam.

Tujuan utama dari label barcode tanaman di sekolah antara lain:

  1. Identifikasi Tanaman: Label barcode memungkinkan pengenalan tanaman dengan mudah dan cepat. Setiap kode barcode memiliki informasi unik terkait tanaman yang dapat diakses dengan pemindai barcode atau aplikasi khusus.
  2. Edukasi: Label barcode dapat digunakan sebagai alat edukasi untuk siswa dan anggota sekolah lainnya. Informasi yang terdapat dalam barcode bisa berupa nama ilmiah tanaman, nama umum, asal tanaman, manfaatnya, dan informasi penting lainnya.
  3. Pemeliharaan dan Perawatan: Dengan informasi yang tertera pada label barcode, petugas sekolah atau siswa yang bertanggung jawab untuk merawat tanaman dapat mengetahui kebutuhan spesifik tanaman tersebut, seperti cara menyirami, memupuk, atau perlakuan khusus lainnya.
  4. Konservasi dan Pemantauan: Label barcode dapat membantu dalam pemantauan pertumbuhan tanaman serta memudahkan dalam memetakan keberadaan tanaman di lingkungan sekolah.
  5. Pengelolaan Sumber Daya: Dengan sistem barcode, sekolah dapat mengelola inventarisasi tanaman secara lebih efisien, termasuk menghitung jumlah dan jenis tanaman yang dimiliki.
  6. Keterlibatan Komunitas: Label barcode juga dapat meningkatkan keterlibatan komunitas sekolah atau orang tua siswa dalam program kegiatan keberlanjutan atau lingkungan hidup yang melibatkan perawatan tanaman.

Penggunaan label barcode tanaman di sekolah tidak hanya bermanfaat dalam hal pendidikan dan pengelolaan lingkungan, tetapi juga meningkatkan kesadaran akan keanekaragaman hayati dan pentingnya merawat tanaman untuk keseimbangan ekosistem.

  • Pengolahan Limbah Sampah Plastik Lukisan Wajah Plastik (Kolase) Pada Kegiatan P5

Lukisan wajah dari limbah plastik (kolase) adalah karya seni yang dibuat dengan menggunakan potongan-potongan atau fragmen limbah plastik untuk membentuk gambar atau lukisan yang menggambarkan wajah manusia atau ekspresi lainnya. Biasanya, potongan-potongan plastik dari berbagai jenis seperti kantong plastik, atau bungkus makanan dipilih dan disusun sedemikian rupa untuk menciptakan efek visual yang menyerupai lukisan. Teknik ini menggabungkan aspek seni kreatif dengan kepedulian terhadap lingkungan, mengajarkan pentingnya mendaur ulang dan mengurangi sampah plastik dalam bentuk yang edukatif dan menginspirasi.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5/Kokurikuler). Pada kegiatan ini limbah sampah plastik diolah menjadi lukisan wajah plastic, merupakan salah satu inovasi yang bertujuan untuk mengedukasi siswa tentang pentingnya pengelolaan sampah dan kreativitas dalam seni daur ulang. Melalui kegiatan kokurikuler di sekolah, siswa belajar bagaimana mendaur ulang limbah plastik menjadi karya seni, seperti lukisan wajah, sebagai upaya untuk mengurangi limbah plastik yang mencemari lingkungan. Ini tidak hanya mengajarkan keterampilan seni, tetapi juga memupuk kesadaran lingkungan dan nilai-nilai Pancasila seperti gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan hidup.

  • Pengolahan Limbah Sampah Plastik Dalam Mapel Prakarya

Dalam mata pelajaran Prakarya, siswa mengolah limbah sampah plastik menjadi berbagai produk kreatif seperti tas belanja, hiasan dinding, lampu tidur, pot tanaman, karya seni, dan berbagai jenis aksesori. Proses ini tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis dalam seni dan kerajinan tangan, tetapi juga meningkatkan kesadaran akan pentingnya mendaur ulang plastik untuk menjaga lingkungan hidup.

Produk-produk yang dihasilkan memberikan contoh konkret tentang bagaimana penggunaan kreatif limbah sebagai bentuk perilaku ramah lingkungan dalam upaya mengurangi pencemaran lingkungan melalui pembelajaran intrakuler mata Pelajaran Prakarya.

  • Pengolahan Limbah Sampah Plastik menjadi Papan Plastik Multifungsi

Pengolahan limbah sampah plastik menjadi papan plastik merupakan salah satu inovasi pengolahan limbah plastik yang paling tepat karena pengolahan ini memerlukan banyak limbah plastik dari berbagai jenis seperti botol kemasan plastic, tas kresek dan kemasan pembungkus makanan dari plastik.

Pengolahan limbah sampah plastik menjadi papan plastik multifungsi melalui tahapan pemilahan, pencucian, dan pemotongan plastik, diikuti dengan proses pemanasan dalam mesin pencetak panas untuk membentuk lembaran plastik padat. Setelah pengeringan, lembaran plastik dipotong sesuai ukuran yang diinginkan untuk berbagai fungsi, seperti papan tulis, informasi, atau kreatif. Proses ini tidak hanya mengurangi limbah plastik tetapi juga mengajarkan siswa tentang kreativitas dalam mendaur ulang bahan serta pentingnya pengelolaan limbah secara berkelanjutan.

Pada kegiatan inovasi pengolahan limbah sampah plastik menjadi papan plastik proses pembuatannya dalam skala kecil sebagai edukasi dilaksanakan secara langsung oleh siswa dari proses pengumpulan bahan, pemilahan, pemotongan hingga pencetakan dilaksanakan dengan manual dengan alat sederhana midalnya proses membuat talenan dari papan plastik. Sedangkan untuk sekala besar sekolah bekerja sama dengan pihak eksternal (Rumah Plastik di Buleleng dan Bhuana Projek dari program Kodim 1609 Buleleng).

  • Pembuatan Penampungan Air Hujan dan AC dari Drum Plastik

Salah satu usaha konservasi air yang dilaksanakan pada lingkungan sekolah yaitu pembuatan penampungan air hujan dan AC. Penampungan air hujan dan AC dari tong plastik adalah sistem yang dirancang untuk mengumpulkan air hujan yang terjatuh dari atap atau air kondensat yang dihasilkan oleh sistem AC pada tong-tong plastik yang ditempatkan di area tertentu yang dibuat dari drum plastik bekas  Air yang terkumpul dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti penyiraman tanaman disekolah. Ini merupakan salah satu cara praktis dan ekonomis untuk mengelola air sumber daya alternatif dan mengurangi beban pada sistem air bersih.

Tujuan dan manfaat dari pembuatan penampungan air hujan dan AC dari tong plastik antara lain:

 

  1. Konservasi Sumber Daya: Mengurangi ketergantungan pada sumber air bersih dengan memanfaatkan air hujan dan kondensat AC yang terbuang percuma.
  2. Penghematan Biaya: Mengurangi tagihan air dengan memanfaatkan sumber air alternatif secara gratis, mengurangi biaya operasional dan lingkungan.
  3. Pengurangan Dampak Lingkungan: Mengurangi jumlah air limbah yang masuk ke sistem pembuangan, mengurangi dampak negatif pada lingkungan hidup
  • Pemanfaatan air buangan Wastafel untuk menyiram tanaman

Pemanfaatan air buangan wastafel untuk menyiram tanaman merupakan praktik yang ramah lingkungan. Air bekas mencuci tangan atau piring dapat dikumpulkan, disaring, dan digunakan kembali untuk menyirami tanaman, mengurangi penggunaan air bersih secara signifikan. Ini tidak hanya menghemat air tetapi juga mengurangi dampak lingkungan negatif dengan cara mengurangi limbah air yang dibuang.

Pemanfaatan air buangan wastafel untuk menyiram tanaman adalah contoh kecil tetapi signifikan dari upaya konservasi air dan praktik berkelanjutan di sekolah.

  • Penggunaan Stop Kran Otomatis Pengisi Bak Air

Stop kran otomatis pengisi bak air adalah perangkat otomatis yang digunakan untuk mengontrol aliran air ke dalam bak atau wadah penyimpanan air, seperti tangki air atau tong plastik. Perangkat ini dilengkapi dengan sensor atau pengatur yang secara otomatis mematikan aliran air saat bak sudah mencapai kapasitas maksimum atau ketika air mencapai level tertentu yang telah ditentukan. Alat ini dipasang dibeberapa bak kamar mandi/toilet yang ada disekolah.

Tujuan dan manfaat stop kran otomatis pengisi bak air dalam konservasi air:

  1. Mencegah Pemborosan Air: Perangkat ini membantu mencegah pemborosan air dengan menghentikan aliran air secara otomatis saat bak air sudah penuh. Hal ini mengurangi risiko kebocoran atau kebocoran air yang tidak disadari.
  2. Optimalisasi Penggunaan Sumber Daya: Dengan mengontrol aliran air sesuai kebutuhan yang sebenarnya, stop kran otomatis mengoptimalkan penggunaan sumber daya air yang terbatas, terutama dalam konteks konservasi air di lingkungan yang rentan kekeringan.
  3. Meminimalkan Risiko Banjir: Dengan menghentikan aliran air tepat waktu, perangkat ini membantu mencegah terjadinya banjir atau kerusakan struktural pada bak penyimpanan air akibat air berlebih.
  4. Kemudahan Penggunaan: Stop kran otomatis memudahkan pengguna dalam mengelola sumber air tanpa perlu mengawasi secara konstan, sehingga juga meningkatkan efisiensi dan kenyamanan dalam penggunaan air sehari-hari.
  5. Penghematan biaya air: Dengan cara menghindari kelebihan air yang tidak diinginkan, perangkat ini juga meningkatkan keandalan sistem penyimpanan air dan dapat mengurangi biaya operasional dalam jangka panjang.

Secara keseluruhan, stop kran otomatis pengisi bak air adalah solusi yang efektif dalam mengelola penggunaan air yang efisien dan bertanggung jawab, sesuai dengan prinsip konservasi air yang semakin penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan hidup.

  • Penggunaan Sensor Gerak Pada Kran Wastafel

Pada wastafel di area sekolah, beberapa diantaranya pada kran dipasang sensor gerak .Sensor gerak pada kran wastafel adalah teknologi sensor yang terpasang pada kran untuk mendeteksi gerakan tangan atau benda di bawah kran. Fungsinya adalah untuk secara otomatis mengaktifkan aliran air saat ada gerakan yang terdeteksi dan mematikan aliran air saat tidak ada aktivitas di bawah kran.

Kaitannya dengan konservasi air sangat signifikan karena sensor gerak pada kran wastafel dapat membantu mengurangi pemborosan air dengan cara berikut:

  • Pengendalian Aliran Air: Kran dengan sensor gerak hanya mengalirkan air saat ada kebutuhan nyata, yaitu saat ada tangan atau benda yang mendekat untuk mencuci. Ini mengurangi kemungkinan kran terbuka tanpa sengaja dan air mengalir secara tidak terkendali.
  • Pengurangan Waktu Pembukaan Kran: Dengan otomatisasi pengaturan aliran air berdasarkan deteksi gerakan, sensor gerak memastikan bahwa kran hanya terbuka selama diperlukan, tidak lebih dan tidak kurang. Hal ini mengurangi waktu aliran air yang tidak efisien.
  • Penghematan Air: Dibandingkan dengan kran manual yang dapat meninggalkan air mengalir lebih lama dari yang diperlukan, penggunaan kran dengan sensor gerak dapat menghemat sejumlah besar air dalam jangka waktu tertentu. Ini berkontribusi pada pengelolaan sumber daya air yang lebih berkelanjutan.
  • Kenyamanan Pengguna: Sensor gerak membuat penggunaan kran lebih mudah dan nyaman, karena pengguna tidak perlu menyentuh kran untuk mengatur aliran air, yang juga dapat mengurangi risiko kontaminasi silang.

Dengan demikian, sensor gerak pada kran wastafel tidak hanya memudahkan penggunaan tetapi juga memberikan kontribusi yang signifikan dalam upaya konservasi air, mengurangi jejak lingkungan dari penggunaan air yang berlebihan, dan mendukung praktik hidup yang lebih berkelanjutan.

  • Penggunaan Lampu Solar Sel

Pada beberapa tempat di area sekolah dipasang untuk penerangan dipasang dengan Lampu Solar Sel. Lampu solar sel adalah jenis lampu yang menggunakan panel surya atau panel fotovoltaik untuk mengubah energi matahari menjadi listrik yang dapat digunakan untuk penerangan. Tujuan dan manfaat lampu solar sel ditinjau dari konservasi energi (listrik):

  1. Mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil: Lampu solar sel membantu mengurangi penggunaan listrik dari sumber energi fosil seperti batu bara atau gas alam, yang berkontribusi pada emisi gas rumah kaca dan pemanasan global.
  2. Mendorong penggunaan energi terbarukan: Dengan memanfaatkan energi matahari yang tersedia secara gratis dan berkelanjutan, lampu solar sel mendukung transisi menuju energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan.
  3. Konservasi energi: Menggunakan lampu solar sel mengurangi konsumsi listrik dari jaringan utama, sehingga mengurangi kebutuhan akan energi dari pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar fosil.
  4. Penghematan biaya: Menggunakan energi matahari untuk menghasilkan listrik berarti mengurangi biaya tagihan listrik jangka panjang, terutama di daerah yang terpencil atau di mana biaya distribusi listrik sangat tinggi.
  5. Tidak memerlukan perawatan yang intensif: Lampu solar sel umumnya memerlukan perawatan minimal setelah instalasi awal, membuatnya lebih ekonomis dan praktis dalam jangka panjang.

Dengan demikian, lampu solar sel tidak hanya membantu mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dari penggunaan listrik konvensional, tetapi juga mendukung keberlanjutan energi dengan memanfaatkan sumber daya terbarukan secara efisien dan efektif.

  • Penggunaan Lampu Sensor Cahaya

Pada beberapa tempat di area sekolah dipasang lampu dengan sensor Cahaya. Lampu sensor cahaya adalah jenis lampu yang dilengkapi dengan sensor cahaya yang otomatis mengatur intensitas atau keberadaan cahaya berdasarkan tingkat pencahayaan di sekitarnya. Lampu ini akan secara otomatis menyala saat malam hari dan mati saat pagi hari. Tujuan dan manfaat lampu sensor cahaya ditinjau dari konservasi energi (listrik):

  1. Mengurangi konsumsi energi: Lampu sensor cahaya dirancang untuk mengaktifkan atau menonaktifkan lampu berdasarkan kebutuhan sebenarnya, sehingga mengurangi pemborosan energi yang terjadi ketika lampu dinyalakan terus menerus meskipun tidak diperlukan.
  2. Menyediakan penerangan saat dibutuhkan: Sensor cahaya memastikan bahwa lampu hanya menyala saat ada kebutuhan akan pencahayaan tambahan, seperti saat lingkungan gelap atau saat orang berada di sekitarnya.
  3. Meningkatkan efisiensi penggunaan energi: Dengan menggunakan lampu sensor cahaya, penggunaan energi untuk penerangan dapat diatur secara otomatis dan cerdas, sesuai dengan kondisi lingkungan.
  4. Konservasi energi: Dengan mengurangi waktu operasional lampu yang tidak perlu, lampu sensor cahaya mengurangi konsumsi energi secara signifikan, membantu dalam konservasi energi listrik secara keseluruhan.
  5. Penghematan biaya: Reduksi dalam konsumsi energi berarti pengurangan biaya listrik yang signifikan, terutama dalam aplikasi besar seperti gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, atau fasilitas umum lainnya.
  6. Umur lampu yang lebih panjang: Karena lampu hanya menyala ketika diperlukan, lampu sensor cahaya dapat memperpanjang umur lampu secara keseluruhan, mengurangi biaya perawatan dan penggantian lampu.

Dengan demikian, lampu sensor cahaya tidak hanya membantu dalam mengurangi konsumsi energi listrik dan biaya operasional, tetapi juga mendukung upaya konservasi energi secara global dengan memanfaatkan teknologi yang lebih efisien dan berkelanjutan dalam penggunaan energi listrik.

  • Penggunaan Lampu Sensor Gerak

Pada beberapa tempat di area (toilet siswa yang pencahayaan kurang) sekolah dipasang lampu dengan sensor gerak. Lampu sensor gerak adalah jenis lampu yang dilengkapi dengan sensor gerak atau detektor gerak, yang mendeteksi kehadiran atau gerakan manusia di sekitarnya. Ketika sensor mendeteksi gerakan, lampu akan menyala secara otomatis, dan akan mati kembali setelah tidak ada aktivitas yang terdeteksi dalam jangka waktu tertentu. Tujuan dan manfaat lampu sensor gerak ditinjau dari konservasi energi (listrik):

  1. Mengurangi pemborosan energi: Lampu sensor gerak dirancang untuk mengaktifkan lampu hanya saat ada kehadiran orang atau aktivitas di sekitarnya, mengurangi pemborosan energi yang terjadi ketika lampu dibiarkan menyala tanpa kehadiran orang.
  2. Keamanan dan kenyamanan: Tujuan lainnya adalah untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan pengguna dengan menyediakan penerangan otomatis saat orang memasuki ruangan atau area tertentu.
  3. Mengoptimalkan penggunaan energi: Dengan mengatur lampu berdasarkan kebutuhan nyata, lampu sensor gerak membantu mengoptimalkan penggunaan energi dan mengurangi jejak karbon yang dihasilkan dari konsumsi listrik berlebihan.
  4. Manfaat:
  5. Konservasi energi: Dengan mengurangi waktu operasional lampu yang tidak perlu, lampu sensor gerak secara signifikan mengurangi konsumsi energi listrik, berkontribusi pada konservasi energi secara keseluruhan.
  6. Penghematan biaya: Reduksi dalam konsumsi energi berarti pengurangan biaya listrik yang signifikan, terutama dalam lingkungan yang memerlukan penerangan sepanjang waktu seperti koridor, tangga darurat, atau area publik.
  7. Umur lampu yang lebih panjang: Karena lampu hanya menyala saat diperlukan, lampu sensor gerak dapat memperpanjang umur lampu secara keseluruhan, mengurangi biaya perawatan dan penggantian lampu.

Dengan menggunakan lampu sensor gerak, bukan hanya efisiensi energi yang ditingkatkan, tetapi juga pengalaman pengguna yang lebih nyaman dan aman, serta kontribusi positif terhadap upaya global dalam konservasi energi dan perlindungan lingkungan.

  • Pembuatan Website Adiwiyata Sekolah

Website Adiwiyata Sekolah adalah platform digital yang digunakan untuk mempromosikan dan mendokumentasikan kegiatan serta prestasi yang berkaitan dengan program Adiwiyata di sekolah. Program Adiwiyata sendiri adalah program nasional di Indonesia yang bertujuan untuk mendorong sekolah untuk menjadi lembaga yang peduli lingkungan, berkelanjutan, dan berbudaya lingkungan.

Berikut adalah beberapa informasi yang biasanya terdapat dalam Website Adiwiyata Sekolah:

  1. Profil Sekolah: Informasi tentang sekolah, termasuk visi, misi, sejarah, struktur organisasi, dan profil singkat tentang komunitas sekolah.
  2. Program Adiwiyata: Penjelasan mengenai program Adiwiyata di sekolah, tujuan dari program tersebut, dan strategi yang diterapkan untuk mencapai tujuan tersebut.
  3. Kegiatan dan Prestasi: Dokumentasi kegiatan yang telah dilaksanakan dalam rangka mendukung program Adiwiyata, seperti penanaman pohon, pengelolaan sampah, penghematan energi, serta pengurangan dan pemanfaatan plastik. Selain itu, juga mencakup pencapaian dan prestasi sekolah dalam implementasi program Adiwiyata.
  4. Edukasi Lingkungan: Informasi dan materi edukatif mengenai lingkungan hidup, keberlanjutan, konservasi sumber daya alam, dan cara hidup yang ramah lingkungan yang bisa diakses oleh siswa, guru, dan masyarakat umum.
  5. Partisipasi Siswa dan Guru: Artikel atau cerita sukses tentang partisipasi siswa dan guru dalam kegiatan Adiwiyata, pengalaman belajar, serta dampak positif yang dirasakan.
  6. Rencana dan Inovasi: Rencana dan inovasi masa depan sekolah dalam meningkatkan kualitas program Adiwiyata, termasuk upaya untuk mendapatkan penghargaan Adiwiyata.
  7. Keterlibatan Masyarakat: Informasi tentang kolaborasi dan keterlibatan masyarakat, termasuk kerjasama dengan pemerintah daerah, LSM, perusahaan, atau komunitas lokal untuk mendukung program Adiwiyata.
  8. Galeri Foto dan Video: Galeri visual yang menampilkan dokumentasi kegiatan, penghargaan, dan momen-momen penting terkait program Adiwiyata di sekolah.

Website Adiwiyata Sekolah bertujuan untuk menjadi pusat informasi dan inspirasi bagi sekolah lain serta masyarakat dalam mengadopsi praktik ramah lingkungan. Melalui website ini, sekolah dapat meningkatkan visibilitasnya, membangun kesadaran lingkungan, dan menginspirasi perubahan positif dalam perilaku dan kebijakan sekolah. Adapun link webnya adalah: https://sekolah.smpn6singaraja.sch.id/kategori/adiwiyata sedangkan link FB nya adalah https://www.facebook.com/groups/466234576114849

 

D. MOU (KESEPAKATAN KERJA SAMA) DENGAN PIHAK EKSTERNAL

Dalam kaitan pengelolaan lingkungan hidup SMP Negeri 6 Singaraja bekerja sama dengan pihak eksternal, beberapa diantaranya dibuatkan Surat Kesepakatan Kerja Sama (MoU). Kerja sama dengan pihak eksternal dalam pengelolaan lingkungan hidup sangat penting karena memanfaatkan sumber daya dan keahlian yang beragam, meningkatkan efisiensi tindakan, mendorong inovasi teknologi, dan memperluas pengetahuan. Ini juga mendukung kepatuhan terhadap regulasi, meningkatkan kesadaran masyarakat, dan memastikan implementasi praktik berkelanjutan dalam perlindungan lingkungan secara holistik. Dengan demikian, kerja sama dengan pihak eksternal bukan hanya menguntungkan dalam hal mengatasi tantangan lingkungan hidup secara lebih efektif, tetapi juga memberikan kesempatan untuk memanfaatkan sumber daya yang lebih luas dan menciptakan dampak yang lebih besar dalam perlindungan lingkungan bagi generasi mendatang.

 

  1. Kerja Sama Pengolahan Limbah Plastik Rumah Plastik yang dimediasi Program Bhuana Projek Kodim 1609 Buleleng

Kerja sama pengelolaan sampah plastik antara Rumah Plastik dengan SMPN 6 Singaraja melibatkan proses kolaboratif di mana siswa sekolah mengumpulkan sampah plastik. Sampah plastik ini kemudian dibeli dan diolah oleh Rumah Plastik, yang mana prosesnya dimediasi oleh Buana Projek Kodim 1609 Buleleng.

Secara garis besar, kerja sama ini mencakup langkah-langkah sebagai berikut:

  • Siswa SMPN 6 Singaraja mengumpulkan sampah plastik dari lingkungan sekolah dan sekitarnya.
  • Rumah Plastik membeli sampah plastik yang dikumpulkan dari sekolah. Mereka mengolah sampah tersebut menjadi bahan baku untuk membuat papan plastik.
  • Buana Projek Kodim 1609 Buleleng berperan sebagai mediator atau fasilitator dalam kerja sama ini, mengoordinasikan antara Rumah Plastik dan SMPN 6 Singaraja untuk memfasilitasi proses pembelian dan pengolahan sampah plastik.

Manfaat dari kerja sama ini termasuk:

  • Mengedukasi siswa tentang pentingnya pengelolaan sampah plastik dan perlindungan lingkungan.
  • Mengurangi jumlah sampah plastik yang mencemari lingkungan.
  • Memberikan sumber penghasilan tambahan melalui penjualan sampah plastik kepada Rumah Plastik.
  • Mendukung pengembangan papan plastik sebagai produk ramah lingkungan dari limbah plastik.

Kerja sama ini juga mempromosikan kesadaran akan tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan serta pemanfaatan kreatif limbah untuk kebaikan bersama.

  1. Kerja Sama Pengolahan Limbah Organik dengan Dinas Lingkungan Hidup

Untuk pembuangan sisa sampah yang tidak diolah di sekolah , SMP Negeri 6 juga bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng (DLH).

Kerja sama pengelolaan sampah antara SMPN 6 Singaraja dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng (DLH) melibatkan beberapa tahapan penting:

  • Siswa di SMPN 6 Singaraja mengumpulkan sisa sampah plastik dan sampah organik yang tidak diolah. Sampah tersebut ditempatkan di bak penampungan sampah di area sekolah.
  • Setiap hari, petugas dari DLH mengambil sampah yang telah dikumpulkan di SMPN 6 Singaraja. DLH bertanggung jawab untuk mengelola dan membuang sampah sesuai dengan prosedur pengelolaan limbah yang berlaku.
  • SMPN 6 Singaraja membayar iuran bulanan kepada DLH dengan besaran yang sudah ditetapkan. Iuran ini mungkin mencakup biaya pengangkutan dan pengolahan sampah yang telah diambil oleh DLH.

Manfaat dari kerja sama ini termasuk:

  • Dengan pengambilan rutin oleh DLH, sampah di SMPN 6 Singaraja dikelola dengan baik dan diangkut secara teratur, mencegah penumpukan dan masalah kesehatan lingkungan.
  • Siswa-siswa terlibat dalam praktik pengumpulan sampah dan pembayaran iuran, meningkatkan kesadaran mereka akan pentingnya pengelolaan sampah yang baik dan perlindungan lingkungan.
  • Kerja sama antara sekolah dan DLH memperkuat hubungan antara pendidikan dan pemerintah daerah dalam upaya bersama menjaga kebersihan lingkungan.
  • Dengan manajemen yang baik, kerja sama ini membantu dalam mengurangi dampak negatif sampah terhadap lingkungan, seperti pencemaran dan kebocoran limbah.

Dengan demikian, kerja sama antara SMPN 6 Singaraja dengan DLH Kabupaten Buleleng adalah contoh konkret dari upaya kolaboratif untuk pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan di tingkat lokal.

E. PENUTUP

  1. Kesimpulan

Sekolah Adiwiyata dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) merupakan merupakan salah satu cara untuk mencetak manusia pada umumnya dan generasi muda khususnya untuk lebih peduli dan mencintai alam. Dengan penanaman nilai-nilai cinta lingkungan/pola hidup untuk bersih dan sehat sejak dini diharapkan nantinya sudah merupakan kebiasaan-kebiasaan yang tidak asing lagi untuk dillakukan baik dilingkungan sekolah, di rumah maupun di masyarakat.

Dibutuhkan rencana aksi lingkungan dalam jangka Panjang dan jangka pendek dalam menyelesaikan semua permasalahan lingkungan yang ada di SMP Negeri 6 Singaraja. Rencana aksi lingkungan akan dibuat dan di program oleh Tim Adiwiyata SMP Negeri 6 Singaraja bersama Kepala Sekolah, Dewan Komite Sekolah, pengawas sekolah, seluruh pendidik, dan tenaga kependidikan di SMP Negeri 6 Singaraja.

  1. Saran

Sekolah-sekolah yang ada harus secara bertahap menuju ke Sekolah Adiwiyata, karena dengan begitu generasi muda akan ikut serta dalam usaha menjaga sekaligus menyelamatkan alam ini.

Tekad dan semangat akan cinta terhadap lingkungan perlu ditanamkan sejak dini, maka program Adwiyata sekolah adalah hal yang tepat dalam mengenalkan dan menerapakan kecintaan kita terhadap pelestarian lingkungan hidup. SMP Negeri 6 Singaraja bertekad mewujudkan sekolah Adiwiyata yang lebih baik dan semakin baik.

Bagikan artikel ini:

Beri Komentar

I Made Jimat., S.Pd.,M.Pd.

- Kepala Sekolah -

Seraya memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, disertai perasaan bangga saya menuliskan kata sambutan Kepala sekolah,...

Berlangganan
Jajak Pendapat

Bagaimana Pendapat Anda tentang SMP Negeri 6 Singaraja

Hasil